Cerita Tommy Yuwono Dirikan Pintek dari Pengalaman Nyaris Gagal Kuliah

2 menit
pintek tommy yuwono
Tommy Yuwono saat jadi pembicara di sebuah acara. (Instagram/@pintek.id)

Keterbatasan dana kerap kali menjadi penghalang bagi anak-anak di Indonesia untuk mengenyam pendidikan berkualitas.

Selain meningkatnya biaya pendidikan setiap tahun, ketersediaan tempat di sekolah maupun lembaga pendidikan tinggi negeri juga semakin terbatas.

Mau tak mau, sekolah swasta hingga universitas swasta menjadi pilihan. Akan tetapi, pendidikan di sekolah swasta memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Co-Founder Pintek.id, Tommy Yuwono bercerita soal dirinya yang mengalami kesulitan biaya pendidikan pada tahun 2010 lalu. Saat ingin meraih gelar sarjana, dirinya terbentur masalah keterbatasan biaya pendidikan.

Akan tetapi, beruntung dirinya mendapatkan beasiswa yang menjadi jalan untuk menempuh bangku kuliah.

Dirinya bercerita, dari keterbatasan dana kuliah itu lah, dirinya mendirikan perusahaan financial technology (fintech) Pintek.id guna memberikan kemudian akses dana pendidikan untuk masyarakat.

“Memang ide awalnya banget, saat tahun 2010 itu saya hampir nggak bisa kuliah, karena nggak miliki dana yang cukup, tapi untungnya waktu itu saya dapat beasiswa,” ujar Tommy saat berbincang dengan Moneysmart.id.

Merasa kejadian itu tidak terlupakan, Tommy berupaya agar Pintek.id menjadi solusi bagi anak-anak Indonesia yang ingin belajar tetapi terhambat oleh ketersediaan biaya pendidikan.

Masyarakat yang konsumtif jadi tantangan tersendiri

pintek tommy yuwono
Tommy Yuwono saat jadi pembicara di sebuah acara. (Instagram/@pintek.id)

Akan tetapi, menyediakan akses biaya pendidikan bagi masyarakat di Indonesia penuh tantangan. Salah satunya adalah kondisi masyarakat yang belum terbiasa dengan pinjaman biaya pendidikan.

Bahkan, di Indonesia kredit untuk keperluan konsumtif lebih tinggi dibandingkan dengan kredit untuk pendidikan.

“Kalau di luar negeri pinjaman dana itu, banyaknya justru untuk dunia pendidikan bukan konsumtif, kalau dilihat nilai pinjaman pendidikan itu, paling tinggi di Amerika dibanding kartu kredit, tapi kenapa di Indonesia ini nggak ada,” kata Tommy.

Padahal, pinjaman dana pendidikan lebih menguntungkan, sebab sebagai investasi yang di kemudian hari bisa meningkatkan taraf hidup.

“Di masyarakat kita kecenderungannya masih agak takut dengan yang namanya pinjaman, tapi unik untuk pinjaman yang konsumtif mereka tidak takut malah berani, tapi yang seperti ini produktif mereka takut-takut masih awam,” kata Tommy.

Dengan ini, pihaknya bersama OJK dan pihak terkait selalu melakukan edukasi kepada masyarakat agar selektif melakukan pengajuan pinjaman dan harus sesuai dengan kemampuan.

“Mari kita sama-sama memberikan akses pinjaman pendidikan, kita didik market sama-sama,” ujar Tommy.

Pintek.id, menurut Tommy memberikan ragam biaya pendidikan yang luas mulai dari jenjang paling bawah hingga jenjang pendidikan tinggi, hingga proses pencairan yang hanya memerlukan satu hari kerja.

“Jadi kelebihan kami memberikan pilihan yang lebih luas, beragam, kemudian dari sisi limit bisa lebih tinggi, kemudian dari sisi tenor dan bunga bisa lebih fleksibel dan prosesnya hanya satu hari kerja setelah berkas data komplit,” papar Tommy. (Editor: Ruben Setiawan)

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.