Biar Gak Salah, Ini Perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan!

4 menit
BPJS
Ilustrasi kartu BPJS Kesehatan. (Shutterstock)

BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Program tersebut dibagi menjadi dua yaitu BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Kedua program itu tentu saja sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Meski sama-sama bernama BPJS dan program pemerintah, tapi tentu saja kedua program tersebut berbeda.

Sayangnya, meski sudah diluncurkan dan disosialisasikan, masih banyak masyarakat yang sulit membedakan antara BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Karena itu, biar lebih jelas dan gak bingung lagi, kali ini MoneySmart.id ingin mengulas mengenai perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Simak aja yuk penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Mudah dan Gak Ribet, Begini Cara Pindah Faskes BPJS Kesehatan Offline dan Online

BPJS Ketenagakerjaan

BPJS
Ilustrasi pekerja. (Shutterstock)

Seperti yang dikutip dari situs resminya, BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan hukum publik yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat di hari tua.

Fasilitas yang ditawarkan oleh BPJS Ketenagakerjaan ditujukan bagi beberapa golongan seperti karyawan atau pekerja, wirausaha, pekerja konstruksi dan pekerja migran atau TKI.

Jadi, intinya setiap masyarakat yang berpenghasilan diwajibkan untuk mengikuti program atau menjadi peserta BPJS Kesejahteraan.

Jika sudah menjadi peserta, maka kamu juga diharuskan untuk membayar iuran setiap bulannya. Nah, besaran iurannya juga dibedakan tergantung dari fasilitas yang kamu ikuti.

Selain itu, iuran tersebut harus dibayarkan paling lambat setiap tanggal 15 tiap bulannya. Jika terlambat bayar, maka kamu akan dikenakan denda sebesar 2 persen.

Berikut ini beberapa fasilitas yang ditawarkan BPJS Ketenagakerjaan serta besaran iuran yang akan kamu tanggung.

1. Jaminan Hari Tua (JHT)

Para peserta BPJS Ketenagakerjaan tentu sudah familiar dengan fasilitas yang satu ini. Kamu bisa mendapatkan uang tunai yang besarannya diperoleh dari hasil akumulasi iuran yang kamu bayarkan setiap bulannya.

Untuk dapat mencairkan saldo BPJS, salah satu syaratnya adalah peserta harus sedang tidak bekerja.

Buat bisa menikmati fasilitas JHT, kamu diwajibkan untuk membayar iuran setiap bulan dengan besaran:

  • Penerima upah: sebesar 5,7 persen per bulan dari upah yang dilaporkan dengan pembagian 2 persen dari upah pekerja dan 3,7 persen dari perusahaan.
  • Bukan penerima upah: sebesar 2 persen per bulan dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Pekerja migran Indonesia: sebesar Rp 105 ribu hingga Rp 600 ribu per bulan.

2. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

BPJS juga memberikan perlindungan risiko kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja.

Peserta akan mendapat perawatan tanpa batas biaya. Selain itu, kamu juga akan mendapat santunan kematian sebanyak 48 kali dari jumlah upah yang dilaporkan.

Iuran per bulan yang harus dibayarkan antara lain:

  • Penerima upah: 0,24 persen hingga 1,74. Iuran ini bakal dibayarkan oleh pemberi kerja atau perusahaan dengan persentase yang berbeda-beda tergantung dari besarnya risiko.
  • Bukan penerima upah: sebesar 1 persen dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Jasa konstruksi: mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia: sebesar Rp 370 ribu.

3. Jaminan Kematian

Ada juga fasilitas Jaminan Kematian di mana pihak BPJS akan memberikan uang tunai kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia yang bukan disebabkan karena kecelakaan kerja.

Para peserta wajib membayar iuran setiap bulannya sebesar:

  • Penerima upah: 0,3 persen dari upah yang dilaporkan dan dibayarkan oleh pemberi kerja atau perusahaan.
  • Bukan penerima upah: Rp 6.800 per bulan.
  • Jasa konstruksi: mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia: Rp 370 ribu.

4. Jaminan Pensiun

Jaminan Pensiun merupakan jaminan sosial yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan agar peserta dapat mempertahankan kehidupan yang layak saat memasuki usia pensiun.

Peserta akan mendapatkan uang tunai bulanan dengan syarat kamu sudah memenuhi iuran minimal 15 tahun. Tak hanya peserta, anak yang didaftarkan pada program pensiun juga mendapatkan bantuan uang tunai bulanan hingga usianya 23 tahun.

Namun, fasilitas yang satu ini hanya diperuntukkan bagi pekerja penerima upah dengan membayar iuran setiap bulan sebesar 1 persen dari pekerja dan 2 persen dari perusahaan.

Baca juga: Sering Disepelekan, Ini 5 Kendala yang Bikin Pencairan Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan Ditolak

BPJS Kesehatan

BPJS
Ilustrasi pelayanan kesehatan. (Shutterstock)

Sama halnya dengan Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan juga bertujuan untuk memberikan kesejahteraan untuk masyarakat, namun lebih terfokus pada pengobatan.

Tak seperti BPJS Ketenagakerjaan, program pemerintah yang satu ini tidak diwajibkan untuk semua masyarakat. Jadi, kamu bebas memilih apakah ingin menjadi peserta atau tidak.

Pasalnya, tak sedikit masyarakat yang lebih memilih asuransi swasta ketimbang BPJS Kesehatan. Padahal, gak ada ruginya kok kalau kamu menjadi peserta. Toh, fasilitas yang ditawarkan pun juga sangat menguntungkan yaitu bisa berobat secara gratis, meski ada batasan-batasannya juga.

Gak hanya untuk rawat jalan tapi juga rawat inap. Kamu jadi gak perlu pusing memikirkan tagihan rumah sakit yang tiba-tiba meledak. Dengan menggunakan kartu BPJS, kamu gak perlu mengeluarkan uang sepersenpun.

Namun, untuk bisa menikmati fasilitas berobat gratis dari BPJS, kamu harus membayar iuran setiap bulan yang dibedakan menjadi tiga kelas, seperti:

  • Kelas III, biaya iuran per bulan sebesar Rp 25.500
  • Kelas II, biaya iuran per bulan sebesar Rp 51.000
  • Kelas I, biaya iuran per bulan sebesar Rp 80.000

Nah, itu dia perbedaan antara BPJS Ketenagakerjaan dengan BPJS Kesehatan. Udah gak bingung lagi kan membedakan keduanya? (Editor: Ruben Setiawan)

Dewi Puri
Dewi Puri

Pecinta makeup yang terjun ke dunia financial. Jika biasanya berkutat dengan lipstik dan bedak, kini harus terbiasa dengan logam mulia maupun reksadana. Intinya tetap sama, menghasilkan suatu karya yang cantik.