Dapat Penawaran Asuransi Unit Link? Simak Dulu Penjelasannya Ini

5 menit
Asuransi Unit Link (Shutterstock).
Asuransi Unit Link (Shutterstock).

Ditawari asuransi unit link sama rekan, sahabat, atau saudara? Jangan iya-iya saja dan asal terima karena “gak enak” lho ya. Karena salah pilih asuransi bisa rugi bertahun-tahun!

Sebagian besar asuransi ini sejatinya merupakan asuransi jiwa. Selain mendapatkan manfaat berupa perlindungan layaknya asuransi jiwa, nasabah juga bisa mendapatkan investasi lewat premi yang dibayarkan.

Buat mereka yang awam soal asuransi, tentu saja produk ini menguntungkan banget. Selain dapat perlindungan buat hari tua, bisa dapat uang juga.

Gak sedikit juga perusahaan asuransi yang memiliki produk ini. Ada unit link Prudential, AIA, Axa Mandiri, dan lainnya.

Tapi apakah realisasinya memang menguntungkan seperti itu? Belum tentu lho.

Mengambil contoh kasus dari satu rekan MoneySmart yang sudah menjadi nasabah salah satu perusahaan asuransi selama kurang lebih tujuh tahun. Premi yang dia bayarkan tiap bulan sejak tahun 2012 berjumlah Rp 500 ribu, akan tetapi kok bisa ya di tahun 2019 ini ternyata returns investasinya cuma Rp 16 jutaan? 

Dan sayangnya, agen yang membukakan akun untuknya juga sudah resign lama dari asuransi tersebut. Lalu dana pertanggungan yang diterima keluarga saat nasabah meninggal dunia juga di bawah Rp 100 juta hingga usia nasabah 100 tahun. Ini untung apa rugi ya? Apakah mungkin uang di bawah Rp 100 juta itu masih laku saat usiamu sudah 90 tahun?

Biar lebih jelasnya, mari simak ulasannya di bawah sini.

Baca juga: Ini Asuransi Jiwa Khusus Milenial, Preminya Cuma Rp 100 Ribu

1. Uang premi di asuransi unit link bakal dibagi dua

Flexi Cash
Rupiah (Ilustrasi).

Intinya, setiap uang premi yang kita bayarkan secara bulanan untuk asuransi ini, bakal dibagi dua. Biasanya, penjelasan yang diberikan agen atau customer care memang seringkali ngejelimet hingga akhirnya kita gagal paham.

Ada biaya akuisisi sampai lima tahun, biaya administrasi, biaya saver, biaya pengelolaan investasi, dan lainnya. Hal ini secara gak langsung membuat benefit dari asuransi dan investasi juga berkurang. 

Anggap saja premi asuransimu adalah Rp 500 ribu perbulan. Sebut saja jika Rp 350 ribu untuk premi asuransi, maka silahkan saja lihat benefit yang tersedia. Pasti gak akan sebesar asuransi jiwa non-unit link. 

Jika memang Rp 350 ribu untuk proteksi, investasinya jelas cuma Rp 150 ribu sebulan dong. Nah dengan menabung Rp 150 ribu di reksadana perbulan, kira-kira returnsnya seperti apa? Mari simak penjelasan di poin kedua.

Baca juga: Bingung Pilih Asuransi dan Investasi? Kini Ada Robot yang Bisa Bantu

2. Apa jenis reksadana yang ada di dalam unit link nya?

Ikut reksadana autodebit
Ikut reksadana autodebit

Seringkali agen asuransi unit link menawarkan produk ini ke orang-orang yang awam. Dalam artian yang belum paham soal asuransi maupun investasi.

Jadi ya wajar saja kalau keuntungannya menggiurkan. Padahal, setiap keuntungan yang tertera di informasi yang diberikan, sifatnya gak pasti alias bisa berubah-ubah.

Belum lagi, gak semua orang tahu bahwa reksadana punya banyak jenis. Ada pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, dan lainnya. Mereka cuma tahu, “uangnya bakal diinvestasikan, titik!”

Jika memang dana nasabah yang disetor lewat premi ternyata diinvestasikan di reksadana saham, maka besar kecil keuntungannya tentu bergantung sama Indeks Harga Saham Gabungan. Walau dibilang risikonya gak terlalu besar, tapi tetap saja ada.

Itulah sebabnya, mengapa seorang yang rajin bayar premi Rp 500 ribu perbulan ternyata cuma dapat returns yang sangat kecil walau sudah tujuh tahun. Wong tiap bulannya saja yang disisihkan kecil.

Tentunya beda dengan mereka yang mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk beli reksadana bukan untuk premi asuransi unit link. 

3. “You buy peanut, you get monkey”

Unit Link
Monkey (Ilustrasi).

Paham sama ungkapan ini? Buat yang gak paham, ini adalah ungkapan yang mungkin mengekspresikan hal yang merupakan kesalahanmu sendiri. 

“Yah namanya juga beli murah, jadi harap-harap maklum deh.”

Berkaca pada kasus rekanan MoneySmart di atas, premi asuransi sebesar itu jelas gak akan memberikan proteksi yang maksimal. Dan dana investasi yang sangat minim juga gak akan pernah memberikan cuan.

Gak sedikit situs di internet yang bahkan mengatakan bahwa premi asuransi unit link itu besar. Besarnya seberapa pun gak pernah dijelaskan, intinya preminya gede. 

Idealnya, biaya premi asuransi maksimal yang kamu bayarkan satu bulan adalah 10 persen dari total penghasilanmu. Jika terlalu mahal, khawatirnya hal ini justru bisa mengganggu kesehatan finansialmu. Karena penerima manfaat asuransi jiwa jika kamu sudah meninggal dunia adalah ahli waris kan. 

Sementara itu, biaya investasi minimal juga 10 persen. Kalau yang ini lebih-lebih dikit gak masalah, karena semakin besar investasimu tentu semakin kaya kamu di masa depan.

4. Katanya kalau udah 10 tahun kita gak perlu bayar premi

Rupiah menguat
Mata uang Rupiah (Shutterstock).

Gak usah 10 tahun, di atas tiga tahun pun bisa untuk gak bayar premi. Karena preminya bakal diambil dari uang hasil investasimu.

Setiap bulan kamu bakal dapat laporan dari asuransi terkait untuk informasi saldo investasinya. 

Lantas apa jadinya kalau tiba-tiba uang hasil investasi itu ludes, dan kita sendiri lupa membayar premi asuransi untuk satu bulan? 

Jelas saja, kamu gak bakal bisa menikmati manfaat asuransimu. Gak akan bisa diklaim jika kamu membutuhkannya.

5. Unit link bisa untung juga, asal….

Jangan lantas marah, kecewa, atau bete karena artikel ini ya. Dan tentunya banyak juga kritikan-kritikan yang beredar di internet soal kekecewaan seseorang terhadap asuransi yang satu ini.

Sejatinya, unit link juga bisa menguntungkan. Hanya saja, kita sebagai nasabah memang gak paham cara memilihnya dan “gak kritis” ketika menyikapi penawaran dari para agen asuransi.

Jika asuransimu adalah asuransi jiwa, maka yang harus kamu tanya pertama kali ke agen adalah, berapa Rupiah uang pertanggungan yang bakal didapat oleh keluarga jika kamu meninggal dunia. Dan yang kedua, coba pahami penyakit apa yang di cover serta biaya pertanggungannya.

Setelah itu, tanya pada mereka soal produk reksadana yang bakal kamu beli lewat membayar premi. Dan berapa alokasi dana investasinya.

Usai kamu melihat daftar reksadana yang ditawarkan dan simulasi returnsnya dalam hitungan tahun, jangan langsung bilang “oke.” Lakukan riset terhadap reksadana itu dengan membaca fact sheetnya.

Periksalah alokasi sektor portfolio reksadananya. Jika memang reksadananya saham, rata-rata 98 persen bakal dialokasikan ke saham, oleh karena itu performanya tentu bergantung dengan IHSG. 

Jangan lupa untuk mencari tahu pula, apa saja saham-saham yang masuk dalam sektor portfolionya dan lima kepemilikan efek terbesar. 

Oh ya satu lagi, uang dari hasil investasi itu bisa kamu tarik lho. Asalkan disisakan dalam jumlah yang sesuai, maka manfaat perlindungannya bakal tetap ada.

Jika memang butuh duit buat nikah atau keperluan mendadak, kamu bisa ambil uangnya. Atau kalau mau lebih asyik lagi, ambil saja per tiga tahun dan investasikan di saham. 

Itulah serba-serbi mengenai asuransi unit link yang harus kamu ketahui. Intinya bukan berarti produk ini jelek, hanya saja karena pengetahuan kita yang minim, kita bisa merugi di tahun-tahun berikutnya. (Editor: Winda Destiana Putri).

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.