Perlu Biaya Lifestyle Atau Nikah? Perhatikan 5 Hal Ini

3 menit
Budget Lifestyle (Shutterstock)
Budget Lifestyle (Shutterstock)

Kebutuhan biaya untuk lifestyle nikah ataupun liburan tidaklah sedikit. Diperlukan waktu dan cara agar mampu mengelola keuangan secara baik dan bijak.

Perencana Keuangan Metta Anggraini dari Anggraini & Partners mengatakan, dalam mengatur keuangan diperlukan susunan skala prioritas. Hal ini agar financial goals atau tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana sesuai tenggat waktu yang telah ditargetkan.

1. Tentukan Tujuan Finansial

“Pikirkan goals atau tujuan, kita harus bisa menentukan harus nyaman, dan nyamannya kaya apa. Seperti target punya rumah sendiri,” ujar Metta di Jakarta.

Menurutnya, setelah punya tujuan finansial yang akan dicapai, maka akan semakin mudah dari sisi perencanaan.

“Ketika punya tujuan punya rumah, targetnya di daerah tertentu harganya Rp 500 juta. Nah itu sudah financial goals dan ini akan sangat membantu dari sisi perencanaan,” ungkap Metta.

2. Atur Cashflow Secara Bijak

Kemudian, setelah menentukan financial goals yang akan dicapai, prioritas kedua adalah mengatur arus kas atau cash flow dengan bijak.

Utamakan kebutuhan yang memang sangat diperlukan, dan kesampingkan keinginan yang akan membebani keuangan.

“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau kebutuhan itu simpel, yang nggak penuhi, kita bakalan bisa mati. Kalau keinginan tidak terbatas,” jelas Metta.

Menurut Metta, usahakan arus kasih berjalan positif artinya tidak ada pengeluaran yang lebih besar dari pada penghasilan. Salah satu upayanya adalah jangan terlalu terjebak dalam kebutuhan gaya hidup semata.

“Sekarang dengan adanya sosmed informasi banyak banget dan sekarang orang selalu tertarik dengan lifestyle yang kekinian dan yang mewah. Hal itu tidak salah, tapi harus tahu dulu kebutuhan kita terpenuhi. Jangan sampai makan di irit-irit tapi beli skincare yang mahal mahal tapi makan ngutang, jangan sampai,” ujarnya.

3. Kelola Hutang Dengan Baik

Menurut Metta, pada kelompok prioritas ini utang terbagi menjadi dua bagian. Ada utang konsumtif dan utang produktif. Dengan mengelola utang secara bijak, maka bukan tidak mungkin memiliki utang yang produktif dan memberikan penghasilan tambahan.

“Seperti rumah itu utang produktif yang nilainya meningkat dikemudian hari. Atau bisa juga membeli sesuatu tapi bisa menghasilkan uang,” ungkapnya.

Sedangkan, utang konsumtif yakni membeli suatu barang yang nilainya turun seperti handphone atau utang yang langsung dihabiskan. 

“Seperti makan makan ngopi-ngopi pakai credit card dan sebaiknya menghindari hutang konsumtif,” kata Metta.

Selain itu, pada pos utang ini jika memiliki tanggungan cicilan hutan, bedaran cicilan hutang tidak boleh lebih dari 30 persen dari penghasilan. 

“Kalau total penghasilan Rp 10 juta berarti utang tidak boleh lebih dari 3 juta. Lalu pastikan schedule pembayaran dan bayar tepat waktu. Tidak mengeluarkan uang lebih seperti biaya bunga atau denda,” jelasnya.

4. Menabung

Setelah berhasil mengatur cashflow secara baik dan mengatur hutang dengan bijak, maka selanjutnya adalah menabung.

Prioritas ini sangat penting agar kedepannya bisa memiliki dana darurat atau bahkan dana hari tua.

“Secara umum idealnya menabung 10 persen saving rasionya. Prinsipnya mengamankan aset dari inflasi tapi kalau bisa lebih bagus lagi,” kata Metta.

Metta menjelaskan, jika menabung dilakukan secara konsisten dan disiplin maka akan memberikan efek positif dari sisi perencanaan keuangan. Karena semakin muda mempersiapkan hari tua, maka akan sangat baik karena memiliki waktu yang panjang.

“Untuk dana darurat idealnya tiga kali dari biaya pengeluaran bulan. Kalau sudah nikah ideal nya enam kali dari biaya pengeluaran,” jelasnya.

Besarnya dana darurat tentu tidak harus langsung dikumpulkan secara cepat, tetapi perlahan. Sebab dengan adanya dana darurat bisa mengamankan atau memproteksi diri. Utamanya untuk terus produktif dan meminimalisir potensi gangguan kesehatan, bencana alam, kecelakaan kerja, kematian, hingga musibah.

“Tidak semuanya langsung tercapai tapi ditentukan posisi posnya dana darurat ini penting. Tapi harus likuid kapan dibutuhkan bisa dicairkan tapi jangan terlalu likuid jangan yang terlalu gampang diambil,” tegasnya.

5. Investasi

Selain menabung, investasi juga menjadi sangat penting untuk mengembangkan aset yang dimiliki. Sehingga melawan laju inflasi yang terus naik setiap tahunnya.

“Jika menabung untuk melindungi nilai uang agar tidak termakan inflasi, maka investasi bertujuan melipatgandakan nilai yang di masa depan,” terangnya.

Dengan itu, Metta menegaskan, investasi harus yang bersifat jangka panjang karena akan lebih menghasilkan imbal hasil yang tinggi. Tetapi juga perlu memperhatikan risiko instrumen investasi tersebut.

“Dalam ilmu ekonomi, sesuatu yang memberikan imbal hasil tinggi, maka akan memiliki risiko yang tinggi. Seperti intrumen investasi bursa saham, dimana pasar saham kita termasuk pasar yang kenaikannya paling tinggi setiap tahun. Memang dia trennya bergejolak, tetapi dalam jangka panjang terus naik,” kata Metta.

Menurut Metta, dalam berinvestasi lakukan secara berkala dan konsisten. Karena kadang-kadang suka lupa, dan yang terpenting adalah dilakukan dengan konsisten.

“Dasar investasi harus punya tujuannya, kemudian jangka waktunya. Karena dengan tujuan dan jangka waktunya baru bisa memilih instrumen investasinya. Dengan pertimbangan risiko dan di investasi itu risiko rendah, return tinggi. Jadi harus memilih instrumen yang tepat sesuai dengan tujuannya,” jelasnya.

Selain itu, jangan tergiur oleh iming-iming imbal hasil tinggi minim risiko. Hal ini akan terjebak dalam investasi bodong yang ujungnya akan merugikan secara finansial.

“Makanya sekarang banyak investasi bodong, artinya kebanyakan orang tergiur dengan return-nya tapi nggak lihat risikonya,” tegasnya.

Kemudian, tentukan juga pilihan investasi jangka panjang dan jangka pendek. Biasakan menaruh aset pada keranjang yang berbeda.

“Diversifikasi investasi untuk kebutuhan jangka pendek yang konservatif dan jangka panjang yang agresif,” jelasnya.

Dengan menuyusun lima prioritas perencanaan keuangan, maka tujuan finansial seperti pernikahan, liburan, atau keinginan lainnya bisa tercapai dengan baik dan teratur. 

“Semakin dini kita mengumpulkan (dana investasi) semakin baik karena ada masa waktunya,” pungkas Metta.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

 

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.