Menurut OJK, Ternyata ini Lho Perbedaan Fintech Lending Legal dan Ilegal

2 menit
Pinjaman Online atau Fintech (Shutterstock).
Pinjaman Online atau Fintech (Shutterstock).

Seiring dengan perkembangan zaman yang kian canggih, semakin bermunculan teknologi terbaru di tengah masyarakat. Salah satunya adalah pinjaman online.

Jika sebelumnya kamu harus datang ke Bank jika untuk mengajukan pinjaman saat butuh dana. Kini kamu tinggal berselancar di internet dan pasti menemukan rentetan perusahaan fintech yang menawarkan pinjaman cepat, bahkan ada yang hanya bermodalkan KTP.

Buat orang yang benar-benar kepepet alias butuh uang cepat, tentu penawaran pinjaman tersebut sangat menggiurkan. Dan apesnya, mereka kerap tak memperhatikan syarat dan ketentuannya.

Yang penting uang cepat turun. Saat waktunya bayar, baru deh sadar kalau bunganya sangat besar. Kalau udah begitu siapa yang rugi?

Kalau kamu mangkir, siap-siap aja hidup kamu akan dihantui oleh debt collector. Bukan cuma kamu yang diganggu, tapi keluarga dan teman-teman juga bisa diteror juga. Padahal kala mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) tidak bisa demikian. Ya, itu kalau fintech yang di bawah pengawasan OJK ya.

Belum lagi dengan denda keterlambatan yang harus kamu tanggung, di mana totalnya tergantung dari jumlah pinjaman, pembayaran cicilan dan masa keterlambatan. Denda keterlambatan juga akan diakumulatifkan setiap hari lho.

Karena itu jangan sampai kalap main asal pinjam uang di fintech abal-abal. Ngeri banget sih, bunga yang mencekik hingga cara penagihannya yang gak manusiawi.

Agar terhindar dari perasan renternir online, MoneySmart.id ingin memberikan informasi terkait perbedaan fintech legal dan juga ilegal di bawah ini. Yuk, simak!

Lewat akun Instagram resminya, Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan beberapa perbedaan fintech legal dan ilegal, seperti:

Pinjaman online
Pinjol yang menjerat jika tidak disikapi dengan bijak (Instagram).

Fintech legal

  • Terdaftar dan diawasi OJK.
  • Identitas pengurus dan alamat kantor jelas.
  • Pemberian pinjaman diseleksi ketat.
  • Informasi biaya pinjaman dan denda transparan.
  • Total biaya pinjaman 0,05 persen hinga 0,8 persen per hari.
  • Maksimum pengembalian (termasuk denda) sebesar 100 persen dari pinjaman pokok.
  • Penagihan maksimum 90 hari.
  • Akses hanya kamera, microphone dan lokasi.
  • Risiko peminjam yang tidak melunasi setelah batas waktu 90 hari akan masuk ke daftar hitam (blacklist) Pusdafil.
  • Memiliki layanan pengaduan konsumen.

Fintech ilegal

  • Tidak memiliki izin resmi.
  • Tidak ada identitas pengurus dan alamat kantor yang jelas.
  • Pemberian pinjaman sangat mudah.
  • Informasi bunga atau biaya pinjaman dan denda tidak jelas.
  • Bunga atau biaya pinjaman tidak terbatas.
  • Total pengembalian termasuk denda tidak terbatas.
  • Penagihan tidak ada batas waktu.
  • Akses ke seluruh data yang ada di ponsel.
  • Ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto atau video pribadi.
  • Tidak ada layanan pengaduan.

Daftar fintech legal dan ilegal di OJK

Pinjaman online
Daftar fintech (Instagram).

Per bulan Mei 2019, OJK telah merilis daftar fintech legal yang memang memiliki izin dan berada di bawah pengawasan OJK yaitu sebanyak 113 fintech. Kamu bisa cek daftarnya di sini.

Sementara itu ada sekitar 1.087 perusahaan fintech ilegal alias fintech bodong yang sudah disikat Satgas Waspada Investasi. Untuk daftarnya bisa kamu dapatkan di sini.

Untuk lebih jelasnya lagi, kamu bisa langsung menghubungi kontak OJK di nomor 157. Yuk, mulai waspada jangan sampai kamu nyemplung ke pinjaman online bodong karena cuma akan membuat uangmu terkuras habis. (Editor: Winda Destiana Putri).

Dewi Puri
Dewi Puri

Pecinta makeup yang terjun ke dunia financial. Jika biasanya berkutat dengan lipstik dan bedak, kini harus terbiasa dengan logam mulia maupun reksadana. Intinya tetap sama, menghasilkan suatu karya yang cantik.